Ibadah Etnis Rote, Jemaat Lazarus Soe Rayakan Bulan Budaya dengan Warisan Tradisi
Minggu, 03 Mei 2026 — Dalam rangka memperingati Bulan Budaya yang ditetapkan oleh Sinode GMIT setiap bulan Mei, Jemaat GMIT Lazarus SoE menyelenggarakan ibadah pertama Pukul 06.00 wita di pimpin oleh Cavik. Fidle M. Taneo, S.Fil dan kedua pukul 08.00 wita yang di pimpin oleh Pdt. Tamar E. Djahimo-Nahum, S.Si, khusus bertema budaya dan bahasa etnis Rote pada Minggu, 03 Mei 2026. Ibadah ini bertujuan untuk memperkuat identitas budaya lokal dalam kehidupan bergereja serta melestarikan warisan budaya etnis Rote di tengah jemaat.
Tema: “Mengenal Jalan kebenaran Yang membawa Hidup ( Yohanis 14:1-14 )
Ibadah dimulai dengan prosesi tarian adat Rote dan persembahan natura khas Rote ( Gula air, Gula Lempeng, Marungga,Ikan Kering, Jagung dan Padi ) yang dibawakan oleh Rayon 1 dan rayon 2. Para petugas liturgi, yang terdiri dari Majelis Rayon 1 dan Rayon 2, bersama dengan Pemuda/I dan anak-anak PART, mengenakan pakaian adat Rote lengkap dengan kain tenun ikat dan hiasan kepala khas daerah tersebut.
Dari Timur Rote, lahir alunan sederhana penuh makna: sasandu Timu dulu sepe laka (Sasandu dari Timur). Di tepi Pantai (Kosi Su). Pau Buli dan Bula Luki memainkannya. menghadirkan rasa percaya dan menarik orang untuk mendekat. Kaum ibu yang hendak ke laut (ina mana rai tasi) pun berhenti dan terpikat. Perjalanan berlanjut ke Selatan Danolon/Rao dale hingga ke Ndao Nuse, di mana seorang putri Raja yang tak pernah keluar rumah akhirnya tergerak oleh alunan itu. Hingga ke Batu Leli, semakin banyak perempuan datang menyaksikan.
Sasando merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). ada beberapa versi cerita yang mengisahkan tentang awal mula Sasando ini. Salah satu cerita yang banyak berkembang di masyarakat adalah kisah Sangguana yang terdampar di Pulau Ndana dan jatuh cinta dengan putri Raja. Mengetahui Sangguana jatuh cinta kepada putrinya, sang Raja pun memberikan syarat untuk menerima Sangguana. Sangguana diminta untuk membuat alat musik yang berbeda dengan alat musik lainnya. Sasando berasal dari bahasa Rote, yaitu “Sasandu” yang berarti “bergetar atau berbunyi”. Sasandu pun menjadi bukan sekadar musik, tetapi panggilan dan perjumpaan.
Sasando telah diintegrasikan ke dalam konteks teologis dan sosiologis, salah satunya digunakan dalam himne dan logo Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Ini menunjukkan bahwa sasando dipandang sebagai alat yang mampu mengiringi puji-pujian kepada Tuhan. Liturgi ibadah disampaikan dalam bahasa Rote, mencerminkan penghormatan terhadap warisan budaya lokal. Pujian dan penyembahan diiringi oleh alunan musik tradisional.
Ibadah ini merupakan wujud syukur atas kekayaan budaya yang dianugerahkan Tuhan dan komitmen gereja untuk melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah ini ditutup dengan doa bersama dan Prosesi tarian Adat Rote.